Al-Baqarah 1-5: Muflihûna = Para Pembangun Masyarakat Madani (?)

Surat ini dinamai Al-Baqarah (Ing.: the Cow) karena ada penyebutan kata tersebut dalam ayat 67-71 (Lihat tulisan sebelum ini). Isinya menggambarkan penyimpangan Bani Isra’il dari ajaran Nabi Musa. Ini merupakan surat terpanjang dalam Al-Qurãn dan mengandung ayat terpanjang pula (282). Sebagian besar surat ini diwahyukan pada masa-masa sangat awal Periode Madinah, sedangkan sisanya diajarkan pada masa-masa akhir periode tersebut (menjelang Rasulullah wafat). Di dalamnya ada satu ayat yang sangat ‘mulia’ (Ing.: sublime), yaitu ayat 255, yang terkenal sebagai Ayat Kursi. Dalam surat ini juga terdapat contoh doa yang sangat bersemangat, yang layak dilantunkan manusia (mu’min).

Isinya dimulai dengan pernyataan bahwa Al-Qurãn jauh dari hal-hal yang meragukan. Sebuah kitab yang diajarkan Allah sebagai pembentuk karakter dan pedoman hidup manusia bertakwa. Setelah itu diungkapkan pula masing-masing sifat mu’min, kafir, dan munafik, dilengkapi dengan flashback (tinjauan ke belakang) tentang pemilihan Adam sebagai khalifah, yang semula ditentang malaikat, kemudian digelincirkan oleh Iblis.

Digambarkan, selanjutnya, bagaimana perilaku Bani Isra’il terhadap para rasul yang diutus kepada mereka, khususnya Musa dan Isa, penentangan mereka, sebagai Ahli Kitab, terhadap Nabi Muhammad, serta jawaban-jawaban Nabi Muhammad terhadap mereka.

Di dalamnya juga ada kutipan tentang sejarah Nabi Ibrahim, misinya, serta pekerjaannya merenovasi Ka’bah bersama putranya, Isma’il.[1]

Selanjutnya, dalam surat ini terdapat perintah dan peraturan berkaitan dengan urusan-urusan penting seperti shaum Ramadhan, haji, jihãd, masalah keluarga, urusan dasar kemasyarakatan seperti perkawinan, perceraian, warisan, peraturan tentang makanan dan minuman, larangan berjudi dan riba, serta perlakuan terhadap anak-anak yatim/piatu dan fakir/miskin.

Ayat 1-4

1. Alif-lãm-mîm. Huruf-huruf ini disebut sebagai al-hurûful-muqattha’ah (huruf-huruf terputus, terpisah). Kebanyakan ulama menganggapnya sebagai mu’jizat, dan hanya Allah yang tahu artinya. (Lihat pembahasannya dalam tulisan terdahulu). Huruf-huruf seperti ini terdapat dalam 29 surat Al-Qurãn.

2. Raib = ragu, sangsi, kurang percaya; curiga.

3. Lã raiba fîhi = tiada hal yang meragukan di dalamnya; yaitu bahwa (a) kitab ini diajarkan oleh Allah, dan (b) bahwa ia mencakup bimbingan yang benar bagi manusia dan makhluk-makhluk lain (biasanya yang sering disebut ulama adalah jin). Kenyataan bahwa Al-Qurãn bersumber dari Allah ditekankan berulang-ulang di dalam Al-Qurãn sendiri. Misalnya dalam 32:2; 4:105; 4:166; 6:92; 21:10; 26:92; 36:5; 38:29; 39:1; 40:2; 41:2; 45:2; 46:2; 56:80, 69:43.

4. Muttaqîn (manshûb/majrûr dari muttaqûn, tg. muttaqin) = para pemelihara, orang-orang yang melindungi diri sendiri. Isim fã’il dari ittaqã, bentuk VIII dari waqã (waqyan/wiqãyatan), menjaga; memelihara; melindungi. Para ulama umumnya mengartikan muttaqin sebagai orang yang melindungi dirinya dari murka Allah dengan mengikuti petunjukNya, dan karena itu mereka adalah orang yang takut terhadap Allah. Dalam surat ini sendiri, ayat 3-4, sebenarnya ada uraian tentang siapa al-muttaqîn(a) itu.

5. Yu’minûna = mereka beriman (kk. iii. lk. jm. mdr. dari ãmana [îmãn], bentuk IV dari amina (amnan/amãnan], dalam keadaan aman; merasa aman.

6. Ghaib = segala yang di luar jangkauan penglihatan dan penginderaan manusia. Ulama umumnya mengatakan: Ini termasuk, selain Allah, malaikat, jin, sorga, neraka, kebangkitan, perhitungan, ganjaran, hukuman, dan semua yang tercantum dalam Al-Qurãn serta semua yang dikatakan Rasulullah namun tidak terlihat/terasa. Namun mereka lalai dengan satu kemungkinan bahwa ­al-ghaib(u), bisa jadi, merupakan salah satu sebutan bagi Al-Qurãn itu sendiri, atau bagi ilmu secara keseluruhan. Hal itu tersirat baik melalui rangkaian ayat, maupun melalui tata bahasa, misalnya konsep tentang penambahan kata sandang al pada kata benda.

7. Yuqîmûna = mereka melaksanakan, menegakkan, mengerjakan dengan benar dan layak (kk. iii. jm. mdr. dari aqãma, bentuk IV dari qãma [qiyãm/qawmah], bangun, berdiri, tegak). Dalam konteks ibadah ritual: mengerjakan shalat secara teratur, pada waktu-waktu yang ditentukan, dan berjamaah.

8. Razaqnã = Kami (Allah) sediakan, anugerahkan, karuniakan (kk. i. jm. mdh. dari razaqa [razq], menyediakan sarana hidup).

9. Yunfiqûna = mereka membelanjakan; menghabiskan; memanfaatkan; menyalurkan;  menyumbangkan (kk. iii. lk. mdr. dari anfaqa [nafaq], menggunakan, membelanjakan, menghabiskan. Istilah menyalurkan di sini mencakup pengertian memberi derma, membayar utang, juga membayar zakat (At-Tabari, 1, 165; Ibnu Katsir, 1, 65).

10. Unzila = telah diturunkan (kk. org 3, lk. tg. mdh. majhul dari anzala, bentuk IV dari nazala, turun. Di sini mengacau kepada turunnya wahyu, baik Al-Qurãn maupun hadis (qudsi).

11. Mã unzila min qablika  = sesuatu yang diturunkan (kepada para rasul) sebelum kamu (Muhaammad). Ungkapan ini mewakili konsep bahwa Allah sebagai Tuhan Segala Makhluk telah memberikan bimbingan yang sama, dan menyampaikan wahyu  yang sama pada semua zaman, melalui berbagai RasulNya, dan semua wahyu itu – bagaimana pun – telah digantikan dengan Al-Qurãn.

12. Al-Ãkhirah = hari akhir, hari kemudian, yang mencakup pengertian Kebangkitan, Hari Pengadilan, Perhitungan, Ganjaran dan Hukuman, dan kehidupan di Surga dan Neraka. Demikian pengertian yang biasa disampaikan. Namun ada satu kemungkinan pengertian yang diabaikan, yaitu pengertian yang berkaitan dengan Al-Qurãn sebagai ilmu, yang kemudian menjadi jalan hidup (way of life), yang penerapannya dipolakan oleh Rasulullah. Dalam hal ini, ulama secara umum agaknya lupa bahwa mereka telah membagi sejarah penerapan Al-Qurãn oleh Rasulullah menjadi dua periode, yaitu Periode Awal (Periode Makkah) dan Periode Akhir (Periode Madinah). Dalam konteks ini, al-ãkhirah bisa jadi = al-madînah. Pengertian inilah, bisa jadi, yang disebut sebagai al-ûlã dalam surat Adh-Dhuhã, yang dengan jelas disebut di situ sebagai kebalikan dari al-ãkhirah. Tegasnya, dalam konteks penerapan Al-Qurãn berdasar Sunnah Rasul Muhammad saw, al-ûlã (periode awal) adalah periode Makkah, dan sebaliknya, al-ãkhirah (periode akhir) adalah periode Madinah.

13. Yûqinûna = mereka meyakini, mempunyai keyakinan yang kuat, tahu dengan pasti (kk. iii. lk. jm. mdr. dri ayqana, bentuk IV dari  yaqina [yaqnan/yaqînan], merasa pasti, bersikap pasti. Dalam kaitan dengan keterangan tentang al-ãkhirah di atas, yaitu dalam arti Madinah, maka bil-ãkhirti hum yûqinûna berarti: mereka, para mu’min/muttaqin, adalah orang-orang yang tahu pasti bahwa penerapan Al-Qurãn sebagai pedoman hidup bakal berujung pada tegaknya Madinah. Hal ini juga diisyaratkan oleh Rasulullah melalui sebuah hadis yang berbunyi: ya’rujul-îmãnu ilal-madînati kamã ta’rujul-hayã’ ila hujrihã (Iman selalu mengacu pada Madinah, seperti halnya ular yang selalu kembali ke sarangnya).

14. Muflihûna = orang-orang yang berjaya, orang-orang yang sukses. Para ulama mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ridha Allah dan pahala dariNya. (tg. muflih, isim fã’il dari aflaha, bentuk IV dari falaha [falh] mengolah tanah; karena itu fallãh = petani. Dalam bentuk IV, yaitu aflaha, berarti berusaha keras, menyuburkan, menghasilkan. Dalam kaitan dengan Madinah, al-muflihûna adalah orang-orang yang sukses membangun “Masyarakat Madani”. ∆

 



[1] Menurut sebuah hadis qudsi, Ka’bah sudah ada sejak zaman Nabi Adam.

Huruf-Huruf Misterius

Tafsir alif-lãm-mïm
Al-Baqarah, seperti juga sejumlah surat lain dalam Al-Qurãn, diawali dengan huruf-huruf yang secara bahasa (linguistics; ‘ilmul-lughah) tidak mempunyai arti, yaitu alif-lãm-mïm.
Karena tidak terpahami secara bahasa, menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf misterius sepanjang masa!
Banyak orang (penafsir) mencari-cari berbagai kemungkinan maknanya sesuai kemampuan masing-masing. Ada kalanya, yang diandalkan adalah kemampuan berimajinasi.
Secara umum, para ahli tafsir dalam hal ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, boleh dikatakan bersikap pasif, tidak mau menafsirkan huruf-huruf tersebut.
Mereka beranggapan bahwa huruf-huruf itu masuk ke dalam kelompok ayat-ayat mutasyãbihãt, yang menurut mereka semua pengertiannya hanya diketahui oleh Allah sendiri. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah Jalãluddïn Muhammad bin Ahmad Al-Mahally dan Jalãluddïn ‘Abdur-Rahmãn bin Abu Bakr As-Suyûthy. Mereka inilah yang kemudian terkenal sebagai “Al-Jalãlain(i)” (dua Jalal), karena bersama-sama menulis sebuah tafsir, yang selanjutnya kita kenal sebagai Tafsir Jalain(i); sebuah tafsir yang boleh dikatakan paling ringkas (edisi yang ada pada penulis, misalnya, hanya satu jilid yang terdiri dari 280 halaman), sederhana, dan mudah dipahami.
Kalimat pendek dalam (kitab) tafsir tersebut, Allahu a’lamu bi-murãdihi bihi (الله أعلم بمراده به) – Allah saja yang tahu makna huruf-huruf itu – adalah dalil yang paling sering disebut (dikutip) orang sehubungan dengan ‘huruf-huruf misterius’ tersebut. Ada kalanya dalil ini justru diajukan setelah yang bersangkutan memaparkan berbagai penafsiran.
Secara umum, para penafsir juga menyebut huruf-huruf itu sebagai al-hurûful-muqattha’ah (الحروف المقطّعة), alias huruf-huruf singkatan.
Karena dianggap sebagai huruf-huruf singkatan, maka otomatis ada sejumlah penafsir yang mencari-cari kepanjangannya.
Muncullah, antara lain, nama Ibnu ‘Abbas sebagai narasumber yang menyebutkan kepanjangan dari huruf-huruf itu. Al-Qurthubi, misalnya, mengutip Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa alif dari alif-lãm-mïm adalah kependekan dari Allah, lãm dari Jibril, dan mïm  dari Muhammad.
Kata Al-Qurthubi pula, entah dari narasumber siapa, alif adalah huruf  awal (miftãhun) nama Allah, lãm dari Lathïf (halus; lembut), dan mïm dari Majïd (mulia).
Masih dalam kutipan Al-Qurthubi, ada yang mengatakan bahwa alif-lãm-mïm adalah singkatan dari Ana AlLahu a’laM (Aku, Allah, paling tahu), dan alif-lãm-rã singkatan dari Ana AlLahu aRã (Aku, Allah, melihat). Anehnya, alif-lãm-shãd dikatakan sebagai kependekan dari Ana AlLahu afDhalu (Aku, Allah, paling mulia). Yang terakhir ini, bila tak ada salah ketik pada teks yang saya baca, sungguh ajaib, karena huruf shãd tiba-tiba berubah menjadi dhãd.
Karena begitu banyak versi yang dimunculkan sebagai kepanjangan dari “huruf-huruf singkatan” itu, semua akhirnya jatuh menjadi bernilai spekulatif belaka.
Tentu saja spekulasi demikian itu tidak akan berhasil memuaskan siapa pun (termasuk penafsirnya).
Isyarat dari Al-Qurãn
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya yang amat terkenal, The Holy Qur’an, yang pernah diterjemahkan sedikitnya oleh tiga orang Indonesia (terakhir oleh Ali Audah), agaknya hanya seorang dari sedikit orang yang mengungkap penjelasan yang diisyaratkan oleh Al-Qurãn. Kata Abdullah Yusuf Ali (dalam terjemaan Ali Audah):
Secara logis harus kita perhatikan adanya faktor umum dalam Surah-surah yang didahului awalan-awalan huruf yang sama, dan faktor ini harus dibedakan dengan Surah-surah yang memakai awalan-awalan yang lain. Dalam segala hal, bila terdapat huruf-huruf singkatan, di situ ada beberapa sebuatan Qur’an atau Kitab. …”
Sayangnya, penafsir yang konon pengikut Ahmadiyah ini tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa ciri-ciri tersebut bisa muncul.
Di atas sudah penulis sebutkan bahwa karena tidak terpahami secara bahasa. Menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf misterius sepanjang masa. Tapi, benarkah tinjauan bahasa dalam hal ini sudah sekali ‘mentok’ alias buntu?
Tinjauan bahasa secara verbal (bunyi yang bersifat kata) memang tidak atau kurang membantu.
Tapi, coba diingat kembali bahwa Al-Qurãn adalah sebuah ilmu, dan ilmu itu diajarkan melalui alat bernama bahasa.
Bahasa adalah sebuah alat yang tersusun dari sejumlah lambang. Bila diucapkan (menjadi bahasa lisan), lambang itu berbentuk bunyi. Bila ditulis (menjadi bahasa tulis), bentuk lambang itu adalah huruf.
Al-Qurãn sendiri, sebagai wahyu, datang kepada Nabi Muhammad dalam bentuk bunyi, bukan huruf. Dan, ternyata, di antara bunyi-bunyi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad itu, ada sejumlah bunyi yang ketika ditulis muncul menjadi huruf-huruf, antara lain, alif-lãm-mïm.
Apa artinya?
Karena huruf-huruf itu tidak mewakili bunyi apa pun yang kita kenal sebagai kata, maka huruf-huruf itu memang bukan kata. Karena itu, memperlakukannya sebagai kata adalah keliru. Begitu juga ketika dicoba menempatkannya sebagai huruf-huruf singkatan, tanpa petunjuk Allah dan RasulNya, kita jadi cenderung main tebak-tebakan.
Satu sisi yang belum disentuh adalah proporsi huruf-huruf itu dalam bahasa maupun ilmu.
Huruf pada hakikatnya adalah bagian terkecil dari bahasa, dan kerena itu pula – karena ilmu disampaikan melalui bahasa – maka huruf juga merupakan bagian terkecil dari ilmu. Dengan demikian, apa tidak mungkin bila huruf-huruf ‘misterius’ itu adalah lambang bahasa sekaligus ilmu (yakni Al-Qurãn)?
Lantas, bila memang merupakan lambang bahasa dan ilmu, mengapa pula lambang itu tidak hanya satu? Mengapa setelah alif-lãm-mïm harus ada alif-lãm-rã, alif-lãm-shãd, dan lain-lain?
Jawabannya bukan alif-lãm-mïm, alif-lãm-rã, alif-lãm-shãd yang menjadi lambang, tapi semua huruf adalah lambang, yaitu lambang bahasa sekaligus lambang ilmu. Hanya ‘kebetulan’ dalam Al-Qurãn yang ditampilkan adalah huruf-huruf tersebut. (Selengkapnya lihat bagan).
Isyarat hadis
Bila kita rujuk sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah, kita dapati keterangan bawa wahyu memang tidak seluruhnya hadir dalam bentuk kata-kata, tapi  ada juga yang seperti suara lonceng. Selengkapnya, simaklah hadis riwayat Al-Bukhari ini:
Abdullah bin yusuf bercerita kepada kami; katanya, kami mendapat kabar dari Malik yang mendengar Hisyãm bin ‘Urwah bercerita bahwa ayahnya mendengar dari Aisyah, Ummul-Mu’minïn, r.a. bahwa Harïts bin Hisyãm, r.a. bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada Anda?” Maka Rasulullah menjawab, “Kadang-kadang ia datang kepadaku seperti dentingan lonceng, dan itulah cara yang paling berat bagiku. Setelah itu, ia (Jibril) pergi, yaitu setelah aku memahami apa yang dikatakannya. Kadang-kadang Sang Malaikat muncul di hadapanku sebagai seorang lelaki, lalu ia mengajariku (wahyu), sampai aku memahami apa yang ia katakan.” (Lalu) kata Aisyah, r.a., “Aku sendiri pernah melihat wahyu datang kepada beliau pada hari yang sangat dingin. Ketika  ia (Jibril) peri meninggalkan beliau, sungguh, dahi beliau mengucurkan keringat.”
Hadis ini jelas memaparkan cara penurunan wahyu, yang ternyata tidak seluruhnya berupa rangkaian bunyi bermakna (kata-kata), tapi ada juga yang seperti suara lonceng (tidak benar-benar sama dengan suara lonceng!). Apa tidak mungkin bila bunyi-bunyi yang seperti lonceng itulah yang akhirnya diucapkan menjadi alif-lãm-mïm dan lain-lain?
Sangat mungkin.
Lagi pula, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa huruf tidak terpisahkan dari bahasa dan ilmu. Juga bisa menjadi lambang ilmu.
Lebih lanjut, mari kita coba lihat ayat ini (Al-Baqarah ayat 1-2) dari sudut pandang ilmu nahwu:
$O!9# ÇÊÈ   y   7Ï9ºsŒ  Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ
Perhatikanlah bahwa alif-lãm-mïm – yang merupakan ayat pertama itu – ternyata dihubungkan oleh kata penunjuk dzãlika dengan kata al-kitãbu.
Dengan demikian, terjemahan lugu dari kalimat ini adalah “alif-lãm-mïm itulah kitab (atau alif-lãm-mïm = al-kitãb). Tegasnya, tak ada ‘arti’ lain dari alif-lãm-mïm, selain al-kitãb (yaitu Al-Qurãn).
Ternyata, susunan inilah – alif-lãm-mïm dzãlikal-kitãbu – yang selanjutnya bisa menjadi rumus untuk memahami surat-surat lain yang diawali dengan “huruf-huruf misterius” itu; karena memang setelah huruf-huruf itu selalu ada isyarat yang menghubungkannya dengan sebutan-sebutan lain dari Al-Qurãn.∆

Surat Al-Baqarah: Tentang Nama Surat

Tulisan di bawah ini adalah copy paste dari KalisaOnline:

Sapi kuning mulus
Al-Baqarah dalam terjemahan di Indonesia selalu diartikan “sapi betina”. Itu dilakukan dengan mengikuti rumusan ilmu sharaf tingkat dasar; yaitu bahwa bila di belakang kata benda terdapat huruf tã’ marbûthah (tã’ bundar), maka kata benda itu masuk ke dalam jenis perempuan (mu’annats; feminine gender).
Di lain pihak, ternyata penambahan huruf tersebut tidak selalu mengubah kata benda jenis lelaki (mudzakkar; masculine gender) menjadi wanita, tapi hanyat menyatakan satu, sebuah, sekelompok. Misalnya, umam(un) berarti bangsa-bangsa atau kaum-kaum, maka ummatun (ummah) adalah satu bangsa atau satu kaum. Atau, bila syajar(un) berarti pohon-pohon, syajaratun (syajarah) adalah sebatang pohon. Dengan demikian, bila baqar(un) berarti (seluruh) sapi, maka baqaratun (baqarah) adalah seekor sapi.
Apalagi bila pada kata baqaratun itu ditambahkan kata sandang al, sehingga menjadi al-bagaratu (al-baqarah), maka tentu pengertiannya (penerjemahannya) bisa menjadi lain lagi.
Dalam Al-Qurãn sendiri sendiri, kata al-baqaru (bentuk ma’rifah/definitive dari baqarun) disebut tiga kali, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 70, serta dalam surat Al-An’ãm ayat 144 dan 146. Dan, yang menarik, pada surat Al-Baqarah ayat 70, kata al-baqara digunakan Bani Isra’il sebagai sambutan atas informasi Musa bahwa Allah menyuruh mereka menyembelih baqaratan, seperti yang tertera pada ayat 67. Kemudian, pada ayat 71, Musa menjawab mereka dengan menggunakan lagi kata baqaratun. Jelasnya, bila hal itu diukur dengan teori ilmu sharaf tingkat dasar tentang penambahan tã’ marbûthah yang mengubah kata benda jenis lelaki menjadi jenis wanita, maka apa yang dilakukan Yahudi itu tentu sangat bodoh. Mengapa? Sebab, Musa menyebut agar mereka menyembelih “sapi betina”, tapi mereka menyambut dengan pertanyaan, “Sapi jantan macam apa?” Dalam bahasa anak muda sekarang, Yahudi ini rupanya nggak konek alias nggak nyambung.
Mungkin anda akan mengatakan bahwa Yahudi sengaja mengolok-olok Musa dengan cara seperti itu. Bisa jadi. Tapi, saya ingin menajamkan pengamatan pada ‘rasa bahasa’. Kita ambil contoh! Anda, misalnya, mengatakan kepada saya, “Tadi saya bertemu seorang lelaki.” Dalam pikiran anda, seorang lelaki itu tentu tergambar jelas, karena anda sedang menceritakan pengalaman sendiri. Sebaliknya, dalam pikiran saya sama sekali tidak terlintas gambaran seorang lelaki, tapi sejumlah lelaki, karena saya baru mendengar cerita yang belum lengkap. Maka, sangat masuk akal bila cerita anda itu saya sambut dengan pertanyaan, “Lelaki macam apa yang anda temukan?”
Perhatikan! Seorang lelaki jelas mengacu pada bilangan satu (khusus); sementara lelaki merujuk pada bilangan banyak (umum).
Itulah ‘kasus kebahasaan’ yang terjadi dalam dialogo antara Musa dengan bangsanya. Ketika Musa, di satu pihak, menggunakan kata benda tunggal, baqaratan, Yahudi (Bani Isra’il) bereaksi dengan menggunakan kata benda tunggal bermakna jamak, al-baqaru.  Jadi, sekali lagi, al-baqarah, tidak harus berarti sapi betina, tapi bisa jadi bermakna seekor sapi tertentu (khas).
Dan ternyata, kekhususan sapi itu menjadi tampak menyolok setelah kita periksa surat Al-Baqarah ayat 68-69 dan 71. Di situ disebutkan ciri-ciri sapi itu antara lain: tidak tua dan tidak muda; warnanya kuning tua dan enak dilihat; belum pernah digunakan untuk membajak atau menyiram tanah (sawah; kebun); keadaan kulitnya (yang kuning tua itu) mulus, tanpa bercak noda sedikit pun.
Gambaran demikian itu, mau tak mau, juga mengingatkan kita pada kisah tentang Samiri, yang konon membuat patung sapi dari emas, yang kemudian disembah Yahudi ketika Musa tidak hadir di tengah mereka. Sapi emas itukah gerangan yang dimaksud sebagai al-baqarah itu? Tapi, bukankah Allah menyuruh agar sapi itu disembelih? Bagaimana cara menyembelih (patung) sapi yang terbuat dari emas? Mengapa pula harus disembelih? Atau, bukankah perintah penyembelihan sapi itu berkaitan dengan terbunuhnya seorang lelaki? Itulah salah satu bentuk ‘teka-teki’ Al-Qurãn; yang jawabannya tidak selalu bisa diambil dari gudang teori bahasa. Jawaban itu mungkin terdapat dalam rumusan sastra, atau harus mengacu pada sebuah peristiwa sejarah (termasuk yang terekam dalam teks-teks hadis), dan lain-lain.
Dan, harap dicatat bahwa teori bahasa, rumusan sastra, data sejarah, dan lain-lain itu hanya manawarkan “kemungkinan-kemungkinan” asumptif (zhanni), bukan “kepastian” makna. Kepastiannya, apakah ‘bahan’ dari gudang bahasa, sastra, atau sejarah dan lain-lain yang tepat (proporsional), sangat tergantung pada qarïnah (konteks; indikasi; isyarat) yang ditunjukkan oleh Al-Qurãn itu sendiri. (Ingat dalil innal-qurãna yufassiru ba’dhuhu ba’dhan: sesungguhnya Al-Qurãn itu satu bagian dengan bagian yang lain saling menafsirkan).
Tentu saja anda bisa (dan boleh) membantah apa yang saya ajukan. Tapi – ini masalahnya! – terjemahan yang sudah dianggap mapan itu juga jelas sekali mengandung kekeliruan mendasar. Kata al-baqarah, misalnya, adalah gabungan dari kata sandang al dengan kata benda baqarah. Jadi, al-baqarah adalah sebuah kata benda berbentuk ma’rifah (definitif). Tapi, mengapa para penafsir kita menerjemahkannya menjadi sapi betina, yang jelas bermakna umum (mencakup semua sapi betina)? Padahal, bila benar-benar mau berpegang pada teori bahasa, kata al-baqarah harus diterjemahkan menjadi sapi betina ini atau sapi betina itu, atau si sapi betina atau sang sapi betina (hanya untuk seekor sapi betina tertentu). Atau, seperti diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, menjadi the cow.
Fungsi kata benda ma’rifah
Kata benda ma’rifah (definitif) – yaitu kata benda yang ditambah kata sandang al – dibentuk karena beberapa alasan. Antara lain, ia merupakan pengulangan dari gambaran benda (nyata/konkret maupun gaib/abstrak) yang sudah disebutkan. Misalnya dalam kalimat: Saya melihat seekor sapi (baqaratan) gemuk di ladang tadi pagi. Bila kalimat itu kemudian saya sambung dengan kalimat baru yang dimulai dengan kata Sapi itu (al-Baqaratu), maka yang saya maksud dengan “sapi itu” adalah ulangan dari kalimat di atas (Saya melihat seekor sapi gemuk di ladang tadi pagi). Dengan kata lain, kata benda ma’rifah in dibentuk untuk membedakan pengertiannya, yaitu dari pengertian umum menjadi pengertian khusus.
Alasan lain, kata benda ma’rifah dibentuk untuk mengubah sebuah kata umum menjadi sebuah istilah yang berkaitan dengan konteks wacana atau disiplin ilmu tertentu. Di sini kata benda ma’rifah – khususnya bila ia sebagai istilah – tidak bisa diterjemahkan secara harfiah, tapi harus dilihat dulu definisinya, yang disebut atau diisyaratkan oleh pembuat wacana (pembicara/penulis).
Istilah al-ïmãn(u), misalnya, tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi kepercayaan, karena di satu pihak Al-Qurãn (misalnya melalui surat Al-Hujurat ayat 14) mengisyaratkan definisinya, dan di lain pihak Nabi Muhammad bahkan menetapkan definisi itu dengan begitu jelas (melalui hadis Ibnu Majah, Al-Bukhari, Muslim, Ath-Thabrani, dan Ibnu Najjar).