Al-Baqarah 1-5: Muflihûna = Para Pembangun Masyarakat Madani (?)

Surat ini dinamai Al-Baqarah (Ing.: the Cow) karena ada penyebutan kata tersebut dalam ayat 67-71 (Lihat tulisan sebelum ini). Isinya menggambarkan penyimpangan Bani Isra’il dari ajaran Nabi Musa. Ini merupakan surat terpanjang dalam Al-Qurãn dan mengandung ayat terpanjang pula (282). Sebagian besar surat ini diwahyukan pada masa-masa sangat awal Periode Madinah, sedangkan sisanya diajarkan pada masa-masa akhir periode tersebut (menjelang Rasulullah wafat). Di dalamnya ada satu ayat yang sangat ‘mulia’ (Ing.: sublime), yaitu ayat 255, yang terkenal sebagai Ayat Kursi. Dalam surat ini juga terdapat contoh doa yang sangat bersemangat, yang layak dilantunkan manusia (mu’min).

Isinya dimulai dengan pernyataan bahwa Al-Qurãn jauh dari hal-hal yang meragukan. Sebuah kitab yang diajarkan Allah sebagai pembentuk karakter dan pedoman hidup manusia bertakwa. Setelah itu diungkapkan pula masing-masing sifat mu’min, kafir, dan munafik, dilengkapi dengan flashback (tinjauan ke belakang) tentang pemilihan Adam sebagai khalifah, yang semula ditentang malaikat, kemudian digelincirkan oleh Iblis.

Digambarkan, selanjutnya, bagaimana perilaku Bani Isra’il terhadap para rasul yang diutus kepada mereka, khususnya Musa dan Isa, penentangan mereka, sebagai Ahli Kitab, terhadap Nabi Muhammad, serta jawaban-jawaban Nabi Muhammad terhadap mereka.

Di dalamnya juga ada kutipan tentang sejarah Nabi Ibrahim, misinya, serta pekerjaannya merenovasi Ka’bah bersama putranya, Isma’il.[1]

Selanjutnya, dalam surat ini terdapat perintah dan peraturan berkaitan dengan urusan-urusan penting seperti shaum Ramadhan, haji, jihãd, masalah keluarga, urusan dasar kemasyarakatan seperti perkawinan, perceraian, warisan, peraturan tentang makanan dan minuman, larangan berjudi dan riba, serta perlakuan terhadap anak-anak yatim/piatu dan fakir/miskin.

Ayat 1-4

1. Alif-lãm-mîm. Huruf-huruf ini disebut sebagai al-hurûful-muqattha’ah (huruf-huruf terputus, terpisah). Kebanyakan ulama menganggapnya sebagai mu’jizat, dan hanya Allah yang tahu artinya. (Lihat pembahasannya dalam tulisan terdahulu). Huruf-huruf seperti ini terdapat dalam 29 surat Al-Qurãn.

2. Raib = ragu, sangsi, kurang percaya; curiga.

3. Lã raiba fîhi = tiada hal yang meragukan di dalamnya; yaitu bahwa (a) kitab ini diajarkan oleh Allah, dan (b) bahwa ia mencakup bimbingan yang benar bagi manusia dan makhluk-makhluk lain (biasanya yang sering disebut ulama adalah jin). Kenyataan bahwa Al-Qurãn bersumber dari Allah ditekankan berulang-ulang di dalam Al-Qurãn sendiri. Misalnya dalam 32:2; 4:105; 4:166; 6:92; 21:10; 26:92; 36:5; 38:29; 39:1; 40:2; 41:2; 45:2; 46:2; 56:80, 69:43.

4. Muttaqîn (manshûb/majrûr dari muttaqûn, tg. muttaqin) = para pemelihara, orang-orang yang melindungi diri sendiri. Isim fã’il dari ittaqã, bentuk VIII dari waqã (waqyan/wiqãyatan), menjaga; memelihara; melindungi. Para ulama umumnya mengartikan muttaqin sebagai orang yang melindungi dirinya dari murka Allah dengan mengikuti petunjukNya, dan karena itu mereka adalah orang yang takut terhadap Allah. Dalam surat ini sendiri, ayat 3-4, sebenarnya ada uraian tentang siapa al-muttaqîn(a) itu.

5. Yu’minûna = mereka beriman (kk. iii. lk. jm. mdr. dari ãmana [îmãn], bentuk IV dari amina (amnan/amãnan], dalam keadaan aman; merasa aman.

6. Ghaib = segala yang di luar jangkauan penglihatan dan penginderaan manusia. Ulama umumnya mengatakan: Ini termasuk, selain Allah, malaikat, jin, sorga, neraka, kebangkitan, perhitungan, ganjaran, hukuman, dan semua yang tercantum dalam Al-Qurãn serta semua yang dikatakan Rasulullah namun tidak terlihat/terasa. Namun mereka lalai dengan satu kemungkinan bahwa ­al-ghaib(u), bisa jadi, merupakan salah satu sebutan bagi Al-Qurãn itu sendiri, atau bagi ilmu secara keseluruhan. Hal itu tersirat baik melalui rangkaian ayat, maupun melalui tata bahasa, misalnya konsep tentang penambahan kata sandang al pada kata benda.

7. Yuqîmûna = mereka melaksanakan, menegakkan, mengerjakan dengan benar dan layak (kk. iii. jm. mdr. dari aqãma, bentuk IV dari qãma [qiyãm/qawmah], bangun, berdiri, tegak). Dalam konteks ibadah ritual: mengerjakan shalat secara teratur, pada waktu-waktu yang ditentukan, dan berjamaah.

8. Razaqnã = Kami (Allah) sediakan, anugerahkan, karuniakan (kk. i. jm. mdh. dari razaqa [razq], menyediakan sarana hidup).

9. Yunfiqûna = mereka membelanjakan; menghabiskan; memanfaatkan; menyalurkan;  menyumbangkan (kk. iii. lk. mdr. dari anfaqa [nafaq], menggunakan, membelanjakan, menghabiskan. Istilah menyalurkan di sini mencakup pengertian memberi derma, membayar utang, juga membayar zakat (At-Tabari, 1, 165; Ibnu Katsir, 1, 65).

10. Unzila = telah diturunkan (kk. org 3, lk. tg. mdh. majhul dari anzala, bentuk IV dari nazala, turun. Di sini mengacau kepada turunnya wahyu, baik Al-Qurãn maupun hadis (qudsi).

11. Mã unzila min qablika  = sesuatu yang diturunkan (kepada para rasul) sebelum kamu (Muhaammad). Ungkapan ini mewakili konsep bahwa Allah sebagai Tuhan Segala Makhluk telah memberikan bimbingan yang sama, dan menyampaikan wahyu  yang sama pada semua zaman, melalui berbagai RasulNya, dan semua wahyu itu – bagaimana pun – telah digantikan dengan Al-Qurãn.

12. Al-Ãkhirah = hari akhir, hari kemudian, yang mencakup pengertian Kebangkitan, Hari Pengadilan, Perhitungan, Ganjaran dan Hukuman, dan kehidupan di Surga dan Neraka. Demikian pengertian yang biasa disampaikan. Namun ada satu kemungkinan pengertian yang diabaikan, yaitu pengertian yang berkaitan dengan Al-Qurãn sebagai ilmu, yang kemudian menjadi jalan hidup (way of life), yang penerapannya dipolakan oleh Rasulullah. Dalam hal ini, ulama secara umum agaknya lupa bahwa mereka telah membagi sejarah penerapan Al-Qurãn oleh Rasulullah menjadi dua periode, yaitu Periode Awal (Periode Makkah) dan Periode Akhir (Periode Madinah). Dalam konteks ini, al-ãkhirah bisa jadi = al-madînah. Pengertian inilah, bisa jadi, yang disebut sebagai al-ûlã dalam surat Adh-Dhuhã, yang dengan jelas disebut di situ sebagai kebalikan dari al-ãkhirah. Tegasnya, dalam konteks penerapan Al-Qurãn berdasar Sunnah Rasul Muhammad saw, al-ûlã (periode awal) adalah periode Makkah, dan sebaliknya, al-ãkhirah (periode akhir) adalah periode Madinah.

13. Yûqinûna = mereka meyakini, mempunyai keyakinan yang kuat, tahu dengan pasti (kk. iii. lk. jm. mdr. dri ayqana, bentuk IV dari  yaqina [yaqnan/yaqînan], merasa pasti, bersikap pasti. Dalam kaitan dengan keterangan tentang al-ãkhirah di atas, yaitu dalam arti Madinah, maka bil-ãkhirti hum yûqinûna berarti: mereka, para mu’min/muttaqin, adalah orang-orang yang tahu pasti bahwa penerapan Al-Qurãn sebagai pedoman hidup bakal berujung pada tegaknya Madinah. Hal ini juga diisyaratkan oleh Rasulullah melalui sebuah hadis yang berbunyi: ya’rujul-îmãnu ilal-madînati kamã ta’rujul-hayã’ ila hujrihã (Iman selalu mengacu pada Madinah, seperti halnya ular yang selalu kembali ke sarangnya).

14. Muflihûna = orang-orang yang berjaya, orang-orang yang sukses. Para ulama mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang mendapatkan ridha Allah dan pahala dariNya. (tg. muflih, isim fã’il dari aflaha, bentuk IV dari falaha [falh] mengolah tanah; karena itu fallãh = petani. Dalam bentuk IV, yaitu aflaha, berarti berusaha keras, menyuburkan, menghasilkan. Dalam kaitan dengan Madinah, al-muflihûna adalah orang-orang yang sukses membangun “Masyarakat Madani”. ∆

 



[1] Menurut sebuah hadis qudsi, Ka’bah sudah ada sejak zaman Nabi Adam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>